Program Smart Investasi

Dana Kita

PSID [Program SmartzInvestasi DanaKita.Com] Adalah sebuah program briliant yang akan merubah anda menjadi seorang yang memiliki kebebasan finansial selamanya. Anda akan memiliki penghasilan secara Unlimited / Terus – Menerus bahkan ketika Anda sedang Berlibur atau tidur sekalipun. Tidak hanya itu, Rekening bank anda juga akan kebanjiran Rupiah terus-menerus tanpa terkendali.

Program ini diciptakan dengan sytem yang menguntungkan anggotanya. Tidak Seperti Program Investasi Yang Lain yang diuntungkan hanyalah adminnya. Sementara Anggota Hanya Semacam Sapi Perah Saja

Anda Ingin Bebas Finansial..??

Ingin Uang Mengalir Terus ke Rekening Anda..??

Apakah Anda Ingin Memiliki Penghasilan Tanpa Batas..??

Ingin Merubah Hidup Anda Saat ini Juga..!!

Sudah Saatnya Kita Manfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi
Untuk Menghasilkan Unlimited Income

Selamat , Anda sudah berada di media yang tepat untuk merubah kehidupan Anda yang biasa menjadi luar biasa, dan yang sudah luar biasa menjadi Super luar biasa.

*

Apakah Anda tipe orang yang P 4 M [ Pergi Pagi Pulang Petang] , Anda merasa STRESS setiap hari, tertekan karena intimidasi bos Anda..?? *

Apakah Anda sudah berusaha keras mencari uang, namun hasil yang didapat belum juga memuaskan..??
*

Atau mungkin Anda seorang Mahasiswa yang sudah lulus Sarjana tapi masih saja belum mendapatkan pekerjaan, atau bahkan masih menganggur.? *

Anda pusing memikirkan kebutuhan rumah tangga yang semakin sulit seiring dengat makin terpuruknya perekonomian negara kita..?? *

Anda tidak tahu harus berbuat apa untuk segera keluar dari semua tekanan dan realita kehidupan yang sedang anda hadapi..?

STOP.. Buang jauh – jauh pikiran – pikiran negative dan bersiap – siaplah untuk menjadi
Orang yang memiliki kebebasan Finansial Selamanya.. bahkan sedang berlibur atau tidur sekalipun.

Saat ini anda mungkin sedang mencari bisnis yang bisa mendatangkan income yang tidak terbatas dari internet, bahkan mungkin anda sudah menyiapkan uang jutaan rupiah untuk modal memulai bisnis online karena anda beranggapan dengan banyaknya modal yang anda keluarkan bisa mendatangkan hasil yang besar pula, Sebuah anggapan yang salah jika anda berpikir bahwa untuk menjadi seorang jutawan harus memerlukan modal yang besar, kami katakan dengan tegas bahwa tidak butuh modal besar memulai bisnis online untuk mendatangkan uang yang mengalir, modal yang diperlukan hanya sebesar Rp. 100.000 saja. Sekali lagi kami katakan Ya dengan modal sekecil itu kami jamin anda akan menjadi seorang Jutawan asal anda tahu bagaimana cara menggunakan uang tersebut, dengan kreatifitas dan teknologi internet semuanya bisa terasa mudah dan ringan, yang anda anggap mustahil bahkan bisa menjadi kenyataan.

Bakan anda bisa tidak keluar modal sama sekali….Ya Anda bisa tidak keluar modal sama sekali…tapi rekening akan tetap kebanjiran rupiah demi rupiah.

Silahkan anda daftar saja dulu…GRATIS…pelajari systemnya. Anda akan mengerti bahwa program kami memang sangat berbeda. Dan yang jelas sangat menguntungkan siapapun yang bergabung dengan kami. Tidak PERCAYA…???? Silahkan Buktikan Daftar saja Dulu Baru Bicara Oke. Gratis Toh!

Walau Uang Bukan Segala-galanya…Tapi…Segala-galanya Tetap Butuh Uang.

Program Ini adalah Cara Tepat Meraih Kebebasan Finansial Tanpa Batas

“Baca Terus… “

Mungkin akan terlintas di benak anda bagaimana kalau anda tidak bisa merekrut anggota 1 orang pun, apakah anda akan menjadi sukses dan berhasil menjadi seorang jutawan ?

Kami jawab dengan penuh keyakinan “YA” dengan huruf besar, website ini menggunakan System Random Reseller yang sangat memungkinkan bagi setiap member aktif untuk mendapatkan banyak member walau tanpa merekrut dan walau tanpa promosi sekalipun dengan pengacakan secara otomatis oleh website danakita.com ini.

Untuk pengunjung dan pendaftar yang datang tanpa di daftarkan oleh sponsor, maka website ini akan mengacak setiap member untuk dijadikan sebagai Sponsor langsung, untuk pendaftar baru tersebut, jadi kami katakan sekali lagi, tanpa merekrut anggota pun anda di jamin akan mendapatkan member baru yang datang tanpa sponsor dari sistem yang kami rancang di website ini.

” Jangan Buang Waktu Daftar Segera…GRATIS “

Agar lebih memperjelas bagaimana system program ini bekerja, Silahkan SAAT INI JUGA Anda melakukan Registrasi supaya Anda mendapat HAK AKSES PENUH

Sistem yang diterapkan di danakita.com adalah media yang paling mudah menghasilkan uang

http://danakita.com

Assalamu’alaikum Wr.Wb,

Saudaraku seiman dan seagama

Doa di bawah ini merupakan amalan pribadi penulis yang sangat mustajab dalam segala urusan, khususnya urusan rizki. Jika anda mengamalkan sesuai dengan apa yang biasa penulis amalkan, insya allah dalam jangka waktu yang tidak begitu lama anda pun akan merasakan fadhilahnya.

Jadwal Pelaksanaan Amalan :

  1. Waktu Tahajud ; Shalat Tahajudlah minimal 20 rakaat , setiap 2 rakaat salam dan pada setiap ba’da salam atau antara shalat tahajud dengan tahajud bacalah :
  • Subhanallohi  wabihamdihi subhanallohil adhiimi astagfirulloh  100 x (dalam sebuah hadis diterangkan barangsiapa mengamalkan tasbih ini, niscaya dunia akan tunduk padanya, dan dari setiap bacaan akan diciptakan satu malaikat yang bertasbih yang pahalanya akan diberikan untuk orang yang membacanya)
  • Sholaloh ‘ala Muhammad 100 x
  • Setelah selesai 20 rakaat atau 10 x salam, bacalah : Subhanallohi  wabihamdihi subhanallohil adhiimi astagfirulloh … sampai datang waktu subuh.
  1. Ba’da Subuh ; setelah shalat subuh dan setelah wiridan biasa/umum bacalah :
  • Shahadat 3 x
  • Istighfar 3 x (kalau bisa sayidul istighfar lebih baik)
  • Shalawat : Allaohumma sholi ‘ala sayyidina muhammadin sholatan tuwasi’u  bihaa ‘alainal arzaqu  wa tuhasinu bihaa lanal akhlaqu wa ‘ala aalihi wa sohbihi wa salim 100 x
  • Bismillahirohmanirrohim 1000 x
  • Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyil adhiim 100 x
  • Yaa hayyu yaa qoyyum 1000 x
  1. Ba’da shalat dhuha ; amalkan shalat dhuha min. 8 rakaat tiap hari, setiap sujud yang terakhir atau sebelum duduk tahiyat akhir bacalah dalam sujud tersebut (setelah bacaan sujud biasa) yaa wahhab 41 x, dan setelah salam bacalah :
  • Shahadat 3 x
  • Istighfar 3 x (kalau bisa sayidul istighfar lebih baik
  • Shalawat : ALLOHUMMA SHOLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN ‘ADADA ANWAIRRIZQI WAL FUTUHAT   YAA BASHITHOLLADZI YABSUTURRIZQOL LIMAN YASYA BIGHOIRI HISAB, UBSUTH   ‘ALAYYA  RIZQON KATSIRON MIN KULLI JIHATIN MIN KHOZAINI RIZQIKA BIGOIRI MINNATI MAKHLUQIN BI FADLIKA WA KAROMIKA WA ‘ALA  ALIHI WA SOHBIHI WA SALIM….100X
  • YAA WAHHAB …300X
  1. Ba’da shalat asar : bacalah :
  • Shahadat 3 x
  • Istighfar 3 x (kalau bisa sayidul istighfar lebih baik
  • Shalawat : Allohumma sholi ‘ala sayyidina muhammadin a’dadamaa fi ‘ilmillahi sholatan daa imatan bi dawami mulkilahi 100 x
  • Subhanallohi wal hamdulillahi wa laa ilaaha illalloh wallohu akbar Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyil adhiim 100 x
  • Laa ilaaha illallohu wahdahu laa syarikalah(u) lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa ‘ala kulli syaiin (ng) qodir… 100x
  • Hasbiyalloh wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyil adhiim 100 x
  1. Ba’da shalat isya : Setelah selesai shalat isya dan shalat sunat lainnya yang biasa anda lakukan,  lakukan shalat witir (terserah anda mau berapa rakaat : 1, 3, 5, 7,9 atau 11 rakaat) dan selanjutnya bacalah :
  • Shahadat 3 x
  • Istighfar (astaghfirullohal ‘adhiim ) 1000 x
  • Alhamdulillahirobbil ‘alamin 100 x
  • Shalawat : Allohumma sholi ‘ala sayyidina muhammadin qod doqot hillatii adrikini…100 x

Amalkanlah malan di atas secara rutin dan ikhlas, insya allah apapun keinginan anda dengan izin allah dan atas kekuasaan-Nya akan segera terwujud.  Tapi …syaratnya anda harus yakin dan ikhlas semata mengharap ridho Allah.

Doa ini merupkan amalan pribadi penulis…sejak bertahun-tahun. Disebarkan dengan harapan mendapat nilai tambah bagi penulis yaitu pahala tambahan dari orang-orang yang mengamalkannya. Sebagai investasi penulis untuk bekal menghadap-Nya.

Siapapun boleh mengamalkannya…dan siapapun boleh menyebarkannya kembali, tapi saya harap tidak merubah isinya . Amalan di atas insya  allah tidak akan bertolak belakang dengan ajaran Allah dan rasul-Nya. Untuk keyakinan anda…silahkan cari jawabannya dengan meneliti hadis-hadis yang berhubungan dengan bacaan di atas

Jika anda tertarik untuk mengamalkannya, silahkan dengan senang hati…malah saya akan merasa bersyukur pada Allah SWT dan berterima kasih pada anda, karena dengan demikian berarti ada tambahan pahala buat saya…insya allah. Dan semoga Allah memberikan ampunan dan ridhon-Nya pada saya, keluarga saya dan juga anda dan segenap muslimin dan muslimat. Amiin…

Wassalam

Abu Fauzan

e-mail : insya.allah.bisa.kaya@gmail.com

Kesabaran Berujung Kenikmatan
Oleh: Abu Fauzan

Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.
Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya mnejadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.
Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.
”Alhamdulillah, sya dalam leadaan sehat-sehat saja. Sya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungikn saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”
Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.
Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh menggumkn perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)
Jujur saja Dr.Kahalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bai Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agfar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Amha Tau yang terbaik untukku.
Allahu Akbar, betapa kaimaat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh progrmmagisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembalidan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”
Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senagng sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.
Pemuda itu dengan spontan menyampaikankabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.
Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka kembali menjadi manusia yang utuh.
Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalankembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.
Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.
Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid
Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!
Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.
Diambil dari : Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan

Hadis Tentang Doa
Dari kitab riyadhus shalihin
Kitab Doa-doa – Doa-doa

Allah Ta’ala berfirman:

“Tuhanmu semua berfirman: Berdoalah engkau semua padaKu, pasti Aku mengabulkan doamu semua itu.” (Ghafir: 60)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Berdoalah engkau semua kepada Tuhanmu dengan had dan rahasia – yakni dengan permohonan yang timbul dari jiwa, se-sungguh Allah itu tidak menyukai orang yang melanggar batas.” (al-A’raf: 55)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu – hai Muhammad – tentang Aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku ini dekat. Aku dapat mengabulkan permohonan orang yang berdoa padaKu jikalau ia telah memohonkan itu padaKu,” sampai habisnya ayat. (al-Baqarah: 186)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Siapakah yang dapat mengabulkan permohonan orang yang dalam keadaan terpaksa – yakni menderita kekurangan, jikalau ia berdoa kepadaNya, dan dapat pula menghilangkan keburukan -yakni penderitaan – dari dirinya itu,” sampai habisnya ayat. (an-Naml: 62)

1462. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya:

“Berdoa itu termasuk golongan ibadat.”

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

1463. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu suka doa-doa yang menghimpun – yakni yang mengandung segala macam kepentingan dan keperluan – dan beliau s.a.w. meninggalkan yang selain itu.”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1464. Dari Anas r.a., katanya: “Sebagian banyak doa Nabi s.a.w., itu ialah: Rabbana atina fiddun-ya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar – Ya Tuhan kami, berikanlah kebaikan pada kita di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kita dari siksa neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Muslim dalam riwayatnya menambahkan: Katanya: Anas apabila berkehendak akan berdoa dengan sesuatu doa, maka berdoa dengan doa di atas itu. Juga apabila berkehendak me-mohonkan sesuatu permohonan yang lain, maka dalam doanya itu dimasukkanlah doa di atas itu pula.

1465. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohonkan kepadaMu akan petunjuk, ketaqwaan, dapat menahan diri dari melakukan kemaksiatan serta kekayaan – cukup dari kekurangan sehingga tidak meminta kepada orang lain.” (Riwayat Muslim)

1466. Dari Thariq bin Asy-yam r.a., katanya: “Seseorang itu apabila masuk Islam, lalu Nabi s.a.w. mengajarkan shalat padanya, kemudian orang itu diperintah supaya berdoa dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah, berikanlah kepada saya pengampunan, kerahmatan, petunjuk, kesihatan dan rezeki.” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Dari Thariq bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. yang pada ketika didatangi oleh seseorang lelaki lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah yang harus saya ucapkan di waktu saya akan me-mohonkan sesuatu pada Tuhanku?” Beliau s.a.w. bersabda: “Kata-kanlah – yang artinya: Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku, kerahmatan, kesihatan dan rezeki, sebab doa ini dapat menghimpun segala kepentinganmu dalam urusan dunia serta akhiratmu.”

1467. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya: “Ya Allah, Zat yang Maha mengubah-ubah hati, ubah-ubahlah hati kita – dari satu kepada lain keadaan – untuk terus menetapi ketaatan padaMu.” (Riwayat Muslim)

1468. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Mohonlah engkau perlindungan kepada Allah daripada kesengsaraan bencana, dicapai oleh kecelakaan, buruknya ketentuan dan kegembiraan musuh karena bahaya yang kita peroleh.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: Abu Sufyan-yang meriwayatkan Hadis ini – berkata: “Saya sangsi bahwa saya menambah salah satu dari empat macam permohonan di atas itu.”

1469. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya: “Ya Allah, perbaguskanlah untukku akan agamaku yang itu adalah pegangan perkaraku, perbaguskanlah untukku duniaku yang di dalamnya adalah ke-hidupanku, juga perbaguskanlah akhiratku yang di dalamnya itulah tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematian itu sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (Riwayat Muslim)

1470. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya: “Ucapkanlah: Allahummahdini wa saddidny – Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku dan lempangkanlah perjalananku.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Allahumma inni as-alukal huda wassadad” – Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepadaMu akan petunjuk dan kelempangan perjalanan. (Riwayat Muslim)

1471. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan-dalam doanya yang artinya:

Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu dari kelemahan dan kemalasan, kelicikan, usia terlampau tua dan kikir. Saya juga mohon perlindungan padaMu daripada siksa kubur dan saya mohon perlindungan pula padaMu dari fitnahnya hidup dan mati.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Juga dari beratnya beban hutang dan dikalahkan oleh orang-orang – yakni jangan sampai berbuat kezaliman ataupun dizalimi orang lain.” (Riwayat Muslim)

1472. Dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah s.a.w.; “Ajarkanlah kepada saya sesuatu doa yang dapat saya baca dalam shalatku!” Beliau s.a.w. bersabda:

“Katakanlah – yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya telah menganiaya diriku sendiri dengan penganiayaan yang banyak sekali dan tidak dapat mengampunkan semua dosa itu kecuali Engkau, maka berikanlah untukku pengampunan dari hadhiratMu dan belas kasihanilah saya, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam rumahku – yakni doa yang perlu saya baca dalam rumahku.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “penganiayaan yang banyak,” ada yang mengatakan: “penganiayaan yang besar,” dengan tsa’ yang bertitik tiga dan dengan ba’ bertitik satu. Maka seyugianya supaya dua kata itu dihimpunkan, lalu dikatakan: “katsiran kabiran – yang banyak dan besar.”

1473. Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau s.a.w. berdoa dengan doa ini – yang artinya:

Ya Allah, berikanlah pengampunan untukku kesalahan dan kebodohanku, berlebih-lebihanku dalam perkaraku dan apa saja yang Engkau lebih mengetahui tentang itu daripada saya sendiri.

Ya Allah, ampunkanlah kesalahanku yang saya lakukan dengan kegiatan dan bermain-main, ketidak-sengajaan serta yang memang saya sengaja, juga segala sesuatu yang dari diriku.

Ya Allah, ampunkanlah untukku kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dahulu atau yang saya lakukan kemudian – yakni sesudah saat ini, juga yang saya sembunyikan serta yang saya tampakkan dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahui tentang itu daripada saya sendiri. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha Mengakhirkan dan Engkau adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Muttafaq ‘alaih)

1474. Dan Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu

mengucapkan dalam doanya-yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada kejahatannya apa yang saya kerjakan dan dari kejahatannya apa yang tidak saya kerjakan. (Riwayat Muslim)

1475. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Sebagian dari doanya Rasulullah s.a.w. ialah – yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu daripada lenyapnya kenikmatanMu – yang dikaruniakan padaku – dan bergantinya kesihatan daripadaMu – yang ada dalam diriku – juga dari tibanya siksaMu – atas diriku – dengan mendadak dan pula dari segala macam kemurkaanMu.” (Riwayat Muslim)

1476. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya:

Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan usia terlampau tua serta siksa kubur.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ini untuk dapat bertaqwa kepadaMu, juga sucikanlah jiwaku itu karena Engkau adalah sebaik-baik Zat yang dapat menyucikannya. Engkaulah yang Maha Menguasai serta yang menjadi Tuhannya. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada ilmu pengetahuan yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak dapat khusyu’,dari jiwa yang tidak puas-puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (Riwayat Muslim)

1477. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya:

Ya Allah, kepadaMu saya menyerahkan din, kepadaMu saya beriman, kepadaMu saya bertawakkal, kepadaMu saya kembalikan -segala urusan, dengan petunjukMu saya berbantah – dengan musuh – dan dengan hukum-hukumMu saya memberikan ketentuan hukum. Maka dari itu ampunilah saya akan dosa-dosaku yang dahulu dan yang kemudian, yang saya sembunyikan serta yang saya tampakkan. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha Meng-akhirkan, tiada Tuhan melainkan Engkau.”

Setengah para perawi Hadis ini menambahkan kalimat – yang artinya: Dan tiada daya serta tiada kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah. (Muttafaq ‘alaih)

1478. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. berdoa dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah, se sungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada fitnah-ya neraka dan siksanya neraka, juga dari keburukannya kekayaan an kefakiran.

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Ini adalah lafaznya Imam Abu Dawud.

1479. Dari Ziad bin ‘llaqah dari pamannya, yaitu Quthbah bin Malik r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu mengucapkan – dalam doanya yang artinya – Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu dari keburukan-keburukannya budi pekerti, amal perbuatan serta hawanafsu.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1480. Dari Syakl bin Humaid r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu doa!” Beliau s.a.w. bersabda:

“Katakanlah – yang artinya: Ya Allah, saya mohon perlindungan kepadaMu daripada keburukan pendengaranku dan dari keburukan penglihatanku dan dari keburukan lidahku dan dari keburukan hatiku serta dari keburukan maniku.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1481. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan -dalam doanya yang artinya: “Ya Allah saya mohon perlindungan kepadaMu daripada penyakit belang-belang pada kulit, gila, kusta dan penyakit-penyakit yang buruk-buruk.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1482. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu daripada kelaparan, sebab sesungguhnya lapar itu adalah seburuk- buruknya kawan tidur. Juga saya mohon perlindungan padaMu dari berkhianat, karena sesungguhnya khianat itu adalah seburuk-buruknya sifat yang menjadi ciri seseorang.”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

1483. Dari Ali r.a. bahwsanya seorang budak mukatab – yaitu seorang hambasahaya yang dapat menjadi merdeka apabila dapat menebus harga dirinya sendiri kepada tuan yang memilikinya -datang padanya lalu berkata: “Sesungguhnya saya ini tidak kuat untuk membayar harga tebusan diriku ini, maka itu berilah pertolongan kepadaku!” Ali r.a. berkata: “Tidakkah engkau suka kalau saya ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang saya diajari oleh Rasulullah s.a.w., andaikata engkau mempunyai hutang – atau tanggungan – seperti gunung sekalipun, tentu Allah akan menunaikan hutangmu itu? Yaitu, katakanlah:

Allahummakfini bihatalika ‘an haramika wa aghnini bifadh-lika ‘amman siwaka – Ya Allah, cukupkanlah, saya dengan memperoleh apa-apa yang halal daripadaMu untuk tidak sampai melanggar apa-apa yang menjadi keharamanMu dan perkayakanlah diriku dengan memperoleh keutamaan daripadaMu sehingga tidak memerlukan yang selain daripadaMu.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1484. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. mengajarkan kepada ayahnya yaitu Hushain akan dua kalimat yang dapat digunakan sebagai doa, yaitu – yang artinya:

Ya Allah, berikanlah ilham padaku berupa kelapangan jalanku dan lindungilah saya dari kejahatan diriku sendiri. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1485. Dari Abdulfadhli yaitu al-‘Abbas bin Abdul Muthalib r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah pada saya sesuatu doa untuk bermohon kepada Allah Ta’ala.” Beliau s.a.w. bersabda: “Mohonlah akan keselamatan kepada Allah.” Saya tetap beberapa hari berdoa seperti itu, kemudian saya mendatanginya lagi lalu berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu doa untuk bermohon kepada Allah Ta’ala.” Beliau s.a.w. bersabda kepada saya: “Hai ‘Abbas, paman Rasulullah, mohonlah kepada Allah akan keselamatan di dunia dan akhirat.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

1486. Dari Syahr bin Hausyab, katanya: “Saya berkata kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha: “Hai Ummul mu’minin, bagai-manakah doa Rasulullah s.a.w. yang sebagian banyak sekali, jikalau beliau itu ada di sisimu?” la menjawab: “Sebagian banyak doa beliau s.a.w. itu ialah – yang artinya:

“Wahai Zat yang membolak-balikkan keadaan hati. Tetapkanlah hatiku atas agamaMu.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1487. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Setengah daripada doanya Nabi Dawud a.s. ialah – yang artinya:

Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepadaMu untuk mencintaiMu dan mencintai orang yang cinta kepadaMu, juga perbuatan yang dapat menyampaikan diriku ke arah dapat mencintai padaMu.

“Ya Allah, jadikanlah kecintaan padaMu itu yang lebih saya cintai daripada diri saya sendiri, juga melebihi kecintaan pada keluargaku serta melebihi kecintaan kepada air yang dingin.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1488. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Kekalkanlah – ketika berdoa itu – dengan menggunakan lafaz: Ya Dzal jalali wal Ikram – Hai Zat yang memiliki keperkasaan dan kemuliaan.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi. Imam an-Nasa’i juga meriwayatkan Hadis ini dari riwayat Rabi’ah bin ‘Amir as-Shahabi. Imam Hakim berkata bahwa Hadis ini shahih isnadnya.

Alizhzhu dengan kasrahnya lam dan syaddahnya zha’ mu’jamah, artinya ialah tetapilah secara langsung – yakni kekalkanlah – doa ini dan perbanyakkanlah menggunakannya

1489. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. berdoa dengan doa yang banyak sekali, kita tidak dapat hafal sedikitpun dari doanya itu. Kita lalu berkata: “Ya Rasulullah, Tuan telah berdoa dengan sesuatu doa yang banyak sekali, sehingga kita tidak dapat hafal sedikitpun daripadanya.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya tunjukkan kepadamu semua sesuatu doa yang menghimpun keseluruhannya itu? Yaitu supaya engkau mengucapkan – yang artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya saya mohon kepadaMu dari kebaikan sesuatu yang dimohonkan oleh NabiMu yaitu Muhammad s.a.w. Saya juga mohon perlindungan kepadaMu dari kejahatannya sesuatu yang dimohoni perlindungannya oleh NabiMu yaitu Muhammad s.a.w. Engkau adalah yang dimohoni pertolongan dan atas pertolonganMulah adanya kecukupan – sampai memperoleh apa yang diinginkan dari kebaikan dunia dan akhirat. Dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1490. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Setengah dari doa Rasulullah s.a.w. ialah – yang artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya kita mohon kepadaMu apa-apa yang menyebabkan datangnya kerahmatanMu dan apa-apa yang menyebabkan pengampunanmu, juga selamat dari dosa dan memperoleh dari semua kebaikan, demikian pula berbahagia dengan syurga dan selamat dari siksa api neraka.”

Diriwayatkan oleh Imam Hakim iaitu Abu Abdillah dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih menurut syarat Imam Muslim.
Oleh: Abu Fauzan
e-mail: insya.allah.bisa.kaya@gmail.com

Tujuan Hidup Seorang Muslim
Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary

Setiap orang yang mendalami Al-Qur’an dan mempelajari Sunnah tentu mengetahui bahwa puncak tujuan dan sasaran yang dilakukan orang Muslim yang diwujudkan pada dirinya dan di antara manusia ialah ibadah kepada Allah semata.

Tidak ada jalan untuk membebaskan ibadah ini dari setiap aib yang mengotorinya kecuali dengan mengetahui benar-benar tauhidullah.

Da’i yang menyadari hal ini tentu akan menghadapi kesulitan yang besar dalam mengaplikasikannya. Tetapi toh kesulitan ini tidak membuatnya surut ke belakang. Sebab setiap saat dakwahnya menyerupai perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Artinya : Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang paling menyerupai (mereka) lalu yang paling menyerupainya lagi.” [1]

Bagaimana tidak, sedang dia selalu meniti jalan beliau, menyerupai sirah-nya dan mengikuti jalannya? Al-Amtsalu tsumma al-amtsalu adalah orang-orang shalih yang mengikuti jalan para nabi dalam berdakwah keapda Allah, menyeru kepada tauhidullah seperti yang mereka lakukan, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan menyingkirkan syirik. Mereka mengahadapi gangguan dan cobaan seperti yang dihadapi para panutannya, yaitu nabi-nabi.

Oleh karena itu banyak para da’i yang menjauhi jalan yang sulit dan penuh rintangan ini. Sebab seoarang da’i yang meniti jalan itu akan menghadapi ayah, ibu, saudara, rekan-rekan, orang-orang yang dicintainya, dan bahkan dia harus menghadapi masyarakat yang merintangi, memusuhi dan menyakitinya.

Lebih baik mereka menyingkir ke sisi-sisi Islam yang sudah mapan, yang tidak dimusuhi orang yang beriman kepada Allah. Di dalam sisi-sisi ini mereka tidak akan menghadapi kesulitan, kekerasan, ejekan, dan gangguan, khususnya di berbagai masyarakat Islam. Biasanya mayoritas umat justru mau memandang da’i seperti ini, menyanjung dan memuliakannya dan tidak mengejek atau pun mengganggunya, kecuali jika mereka menentang para penguasa dan mengancam kedudukan mereka. Kalau seperti ini keadaannya, tentu para penguasa ini akan menumpas mereka dengan kekerasan, sebagaiman menumpas partai politik yang hendak mengincar kursi kekuasaannya. Sebab, para penguasa dalam masalah ini tidak bisa diajak kompromi, baik mereka itu kerabat atau pun rekan, baik orang Muslim maupun orang kafir.

Bagaimanapun juga kami merasa perlu mengatakan para da’i, bahwa meskipun mereka tetap harus menyaringkan suaranya atas nama Islam, toh mereka tetap harus mengasihi dirinya sendiri. Karena mereka keluar dari manhaj Allah dan jalan-Nya yang lurus dan jelas, yang pernah dilalui para nabi dan para pengikutnya dalam berdakwah kepada tauhidullah dan memurnikan agama hanya bagi Allah semata. Apa pun usaha yang mereka lakukan untuk kepentingan dakwah, toh mereka tetap harus memikirkan sarananya sebelum tujuannya. Sebab berapa banyak sarana yang remeh justru membahayakan tujuan yang hendak dicapai dan justru menjadi pertimbangan yang besar.

Bahkan banyak da’i yang memaksakan cara yang mereka ciptakan sendiri dan tidak mau mengikuti manhaj para nabi dalam berdakwah kepada tauhidullah di bawah slogan-slogan yang serba gemerlap, tapi akhirnya hanya memperdayai orang-orang bodoh, sehingga mereka menganggapnya sebagai manhaj para nabi.

Karena Islam mempunyai beberapa cabang dan pembagian, maka harus ada penitikberatan pada masalah yang paling penting, lalu disusul dengan yang penting lainnya. Pertama kali dakwah harus diprioritaskan pada penataan akidah. Caranya menyuruh memurnikan ibadah bagi Allah semata dan melarang menyekutukan sesuatu kepada-Nya. Kemudian perintah mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, melaksanakan berbagai kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, seperti cara yang dilakukan semua para nabi. Firman Allah.

“Artinya : Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja) dan juahilah thaghut’.” [An-Nahl : 36]

“Artinya : Dan, Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Ilah selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” [Al-Anbiya' : 25]

Dalam sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan cara yang diterapkan beliau terkandung keteladanan yang baik serta manhaj yang paling sempurna. Hingga beberapa tahun beliau hanya menyeru manusia kepada tauhid dan mencegah mereka dari syirik, sebelum menyuruh mendirikan sholat, melaksanakan zakat, puasa, haji, dan sebelum melarang mereka melakukan riba, zina, pencurian dan membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

Jadi dasar yang paling pokok adalah mewujudkan peribadatan bagi Allah semata, sebagaimana firman-Nya.

“Artinya : Dan, AKu tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” [Adz-Dzariat : 56]

Hal ini tidak bisa terjadi kecuali dengan mengenal tauhidullah, baik secara ilmu maupun praktik, realitas sehari-hari maupun jihad.

Anda bisa melihat berapa banyak para da’i Muslim dan jama’ah-jama’ah Islam yang menghabiskan umurnya dan menghabiskan energinya untuk menegakkan hukum Islam atau menuntut berdirinya negara Islam. Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa tegaknya hukum Islam tidak akan terwujud dengan cara seperti itu. Tujuan itu tidak akan terealisir kecuali dengan suatu manhaj yang dilakukan secara perlahan-perlahan, memerlukan waktu yang panjang, dilandaskan kepada kaidah yang jelas, harus dimulai dari penanaman akidah dan menghidupkan pendidikan Islam serta menekankan masalah akhlak. Jalan yang perlahan-lahan dan panjang ini merupakan jalan yang paling dekat dan paling cepat yang bisa ditempuh. Sebab untuk bisa mengaplikasikan tatanan Islam dan hukum syariat Allah bukan merupakan tujuan yang bisa dilakukan secara spontan dan tergesa-gesa. Karena hal ini tidak mungkin diwujudkan kecuali dengan merombak masyarakat, atau adanya sekumpulan orang yang berkedudukan dan berbobot di tengah kehidupan manusia secara umum yang siap memberikan pemahaman akidah Islam yang benar, baru kemudian melangkah kepada pembentukan tatanan Islam, meskipun harus menghabiskan waktu yang lama[2]

Kesimpulannya, menerapkan hukum-hukum syariat, menegakkan hudud, mendirikan pemerintahan Islam, menjauhkan hal-hal yang diharamkan dan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan, semuanya merupakan penyempurna tauhid dan penyertanya. Lalu bagaimana mungkin penyertanya mendapat prioritas utama, sedangkan pangkalnya diabaikan?

Kami melihat sepak terjang berbagai jama’ah yang menyalahi manhaj para rasul dalam berdakwah kepada Allah ini terjadi karena ketidaktahuan mereka terhadap manhaj ini. Padahal orang yang bodoh tidak pantas menjadi da’i. Sebab syarat terpenting dalam aktivitas dakwah adalah ilmu, sebagaimana yang difirmankan Allah tentang Nabi-Nya.

“Artinya : Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf : 108]

Jadi, keahlian seorang da’i yang paling penting adalah ilmu pengetahuan.

Kemudian kami melihat jama’ah-jama’ah yang menisbatkan diri kepada dakwah ini saling berbeda-beda. Setiap jama’ah menciptakan pola yang tidak sama dengan jama’ah lain dan meniti jalannya sendiri. Ini merupakan akibat dari tindakan yang menyalahi manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena manhaj beliau hanya satu, tidak terbagi-bagi dan tidak saling berselisihan. Firman Allah.

“Artinya : Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku.”

Orang-orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di atas jalan yang satu ini dan tidak saling berselisih. Tapi orang-orang yang tidak mengikuti beliau tentu saling berselisih. Firman Allah.

“Artinya : Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” [Al-An'am : 153]

Jadi tauhid merupakan titik tolak dakwah kepada Allah dan tujuannya. Tidak ada gunanya dakwah kepada Allah kecuali dengan tauhid ini, meskipun ia ditempeli dengan merk Islam dan dinisbatkan kepadanya. Sebab semua rasul, terutama dakwah penutup mereka, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimulai dari tauhidullah dan sekaligus itu pula tujuan akhirnya. Setiap rasul pasti mengatakan untuk pertama kalinya seperti yang dijelaskan Allah.

“Artinya : Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya.” [Al-A'raaf :59 ][3]

Ini merupakan tujuan hidup orang Muslim yang paling tinggi, yang untuk itulah dia menghabiskan umurnya sambil mengusahakannya di tengah kehidupan manusia dan menguatkannya di antara mereka.

Khaliq yang telah menyediakan apa-apa yang menunjang kemaslahatan kehidupan dunianya, Dia pula yang menetapkan syariat agama bagi mereka dan menjaga kelangsungannya. Allah selalu menjaga Islam, karena Islam itulah tujuan dari diciptakannya dunia bagi manusia, lalu mereka diberi kewajiban untuk beribadah dan menguatkan tauhid, sebagaimana yang tercermin dalam firman Allah Ta’ala.

[Disalin dari kitab Ad-Da'wah ilallah Bainat-tajammu'i-hizby Wat-Ta'awunisy-Syar'y, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary. Edisi Indonesia: Menggugat Keberadaan Jama'ah-Jama'ah Islam. Penerjemah: Kathur Suhardi, Penerbit, Pustaka Al-Kautsar. Cet. Pertama, September 1994; hal.38-44]

Oleh: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Macam-macam takdir itu antara lain:

1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum).
2. At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang berlaku untuk manusia).
3. At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).
4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).
5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian).

1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum).
Ialah takdir Rabb untuk seluruh alam, dalam arti Dia mengetahuinya (dengan ilmu-Nya), mencatatnya, menghendaki, dan juga menciptakannya.

Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [Al-Hajj: 70]

Dalam Shahiih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.”[2]

2. At-Taqdiirul Basyari [3] (Takdir yang berlaku untuk manusia).
Ialah takdir yang di dalamnya Allah mengambil janji atas semua manusia bahwa Dia adalah Rabb mereka, dan menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu, serta Allah menentukan di dalamnya orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka. Dia berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Rabb-mu. Mereka menjawab, Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb).” [Al-A'raaf:172]

Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Apakah amal-amal itu dimulai ataukah ditentukan oleh qadha’?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Allah mengambil keturunan Nabi Adam Alaihissalam dari tulang sulbi mereka, kemudian menjadikan mereka sebagai saksi atas diri mereka, kemudian mengumpulkan mereka dalam kedua telapak tangan-Nya seraya berfirman, ‘Mereka di Surga dan mereka di Neraka.’ Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli Neraka.” [4]

3. At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia).
Ialah segala takdir (ketentuan) yang terjadi pada hamba dalam kehidupannya hingga akhir ajalnya, dan juga ketetapan tentang kesengsaraan atau kebahagiaannya.

Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas’ud secara marfu':

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).”[5]

4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan).
Yaitu dalam malam Qadar (Lailatul Qadar) pada setiap tahun. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [Ad-Dukhaan: 4]

Dan dalam firman-Nya:

“Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-Qadr: 4-5]

Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan terjadi dalam setahun (ke depan,-ed.) mengenai kematian, kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga rizki dan hujan, hingga (mengenai siapakah) orang-orang yang (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir itu), fulan akan berhaji dan fulan akan berhaji.

Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, demikian juga al-Hasan serta Sa’id bin Jubair. [6]

5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian)
Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan: 29]

Disebutkan mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya. [7]

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]

Doa Nurbuwat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.